Hey, Selamat Datang di Berita Kroya. Di sini memuat tentang segala sesuatu tentang kota Kroya.

Pecel Rangkulan Kroya

Sabtu, 01 Juni 2013

Kapan pedagang pecel menjadi ”bumbu” keramaian di Stasiun Kroya, Cilacap, Jawa Tengah? Entahlah. Namun, diyakini, mereka ada sejak Stasiun Kroya beroperasi tahun 1887. Sejatinya, pecel adalah makanan khas warga Kroya. Dan, jangan terheran-heran dengan istilah ”pecel rangkulan” karena rangkulan adalah akronim dari uRANG (rempeyek udang), seKUl (nasi), dan keLAN (sayur).
Lebar Atmojo (77), seorang pensiunan pegawai PT Kereta Api di Stasiun Kroya, punya cerita soal pecel kroya. ”Kepala saya pernah dijendul (didorong) tentara Jepang gara-gara minta duit. Tentara itu tak mau bayar pecel,” kata Lebar, Senin (23/8).
Pada hari itu, Lebar Atmojo berusia 10 tahun. Tiap hari dia membantu Yamini, neneknya, jualan pecel. Diakuinya, masa pendudukan Jepang merupakan masa tersulit sebab banyak dagangan pecel dirampas.
Namun, setelah kemerdekaan, pedagang pecel kembali banyak. Dulu, kata Lebar, Stasiun Kroya malah seperti pasar. ”Apalagi waktu sepurnya (lokomotif) masih uap. Lama berhentinya karena harus isi arang. Penumpang pun turun beli pecel,” kata dia.
Umumnya, pedagang pecel rangkulan adalah ibu-ibu usia 30-an tahun. Dagangan disunggi di atas kepala atau dijinjing di pinggang. Aneka makanan itu ditempatkan dalam tampah, ember, dan panci (tempat sayur).
Laiknya pecel, komposisi utamanya sayuran diimbuhi sambal kacang. Namun, kekhasan pecel kroya adalah kecombrang atau honje (Etlingera elatior): sayuran dari sejenis tumbuhan rempah. Warnanya putih, kadang merah muda, wangi dengan rasa manis asam kenyal. ”Karena kecombrang, orang ingat pecel kroya,”. Pecel kroya dijual Rp 3.000 per pincuk (piring daun pisang). Cukup menambah Rp 1.000, sudah didapatkan pecel kroya komplet dengan rempeyek udang. ”Lauk ayam goreng juga ada, tapi harganya jadi Rp 5.000,” 
Banyaknya pedagang pecel tidak lepas dari padatnya lalu lintas kereta di Kroya. Sejak tahun 1916, stasiun ini menjadi titik temu jalur rel Bandung-Yogyakarta-Surabaya dengan Jakarta-Cirebon-Yogyakarta-Surabaya.
Tingginya minat masyarakat Cilacap terhadap kereta itulah yang membuat pecel kroya tetap bertahan sebagai menu khas.
Meskipun kini di area stasiun mulai bermunculan kedai-kedai masakan masa kini, pecel kroya dan romantismenya belum lekang. Mari para pemudik, silakan singgah di Stasiun Kroya.

Kroya, Jawa Tengah.

Kroya adalah sebuah kota di, Jawa TengahIndonesiaKroya adalah sebuah kota yang terletak di wilayah kabupaten Cilacap, jawa tengah, merupakan kota berkembang & pusat perdagangan di wilayah timur Cilacap. juga merupakan jalur pertemuan antara jalur KA dari arah Bandung-Tasikmalaya dengan jalur KA dari Cirebon (Kejaksan)-Purwokerto. Hal ini mengakibatkan Stasiun Kroya memiliki tingkat lalu lintas terpadat di Daerah Operasi 5 Purwokerto, dan untuk mengakomodasinya, emplasemen stasiun ini dibuat sepanjang 600 m. Stasiun Kroya merupakan stasiun terbesar di wilayah Kab. Cilacap. di kota Kroya terdapat sebuah pasar tradisonal yang cukup besar & berada di tempat yang strategis. Kroya berbatasan langsung dengan wilayah banyumas di sebelah utara, Nusawungu di sebelah timur ,kecamatan Adipala di sebelah barat & kecamatan binangun di sebelah selatan.
Kondisi kerukunan umat beragama di Kota Kroya terbina dengan baik, dimana para tokoh agama senantiasa menjalin silaturahmi dalam rangka meningkatkan peran serta dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan antar umat beragama. Jumlah penduduk di Kota Kroya menurut agama yang dianut, terdiri dari ; Islam : 136.663 jiwa, Katholik : 617 jiwa, Protestan : 1913 jiwa, Hindu : 56 jiwa, Budha : 418 jiwa.
Sedangkan jumlah tempat peribadatan adalah: Masjid : 144 buah, Mushola/langgar : 262 buah, Gereja katholik : 12 buah, Gereja protestan : 23 buah, Vihara : 7 buah.
Kondisi sosial meliputi aspek Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Hankam (IPOLEKSOSBUD HANKAM). Secara umum kondisi social ekonomi masyarakat di Kota Kroya berada pada kondisi yang cukup baik, artinya secara prinsipil tidak terdapat tindakan–tindakan yang mengarah pada upaya penggantian idiologi negara, ancaman disintegrasi bangsa, serta tindakan-tindakan sara khususnya yang mengarah pada perpecahan antar etnis, suku dan agama.
Guna mendukung iklim investasi di Kabupaten Cilacap serta kegiatan industri dan perdagangan, tersedia fasilitas pasar baik milik pemerintah daerah maupun desa. Untuk pasar milik pemerintah daerah yang berada di Kota Kroya tercatat ada 3 buah, sedangkan pasar milik desa sebanyak 10 buah, selain itu terdapat beberapa swalayan yang juga menopang perekonomian di kroya. Ditinjau dari segi pendidikan, tingkat pendidikan masyarakat Kecamatan Kroya tergolong tinggi. Hal ini karena didukung fasilitas pendidikan yang memadai, yaitu meliputi : 59 buah SD / MI, 21 buah SLTP / MTs dan 9 SLTA, 5 SMK, 3 Akademi, 1 Perguruan tinggi, dan 7 Pondok Pesantren. Pendidikan informal yang ada di Kroya meliputi; LPK Bahasa (24), Komputer (11), Menjahit (6), Sopir/Montir (9), dan lainnya (18). Jumlah Prasarana Kesehatan yang ada di Kota Kroya terdiri dari 2 buah Rumah Sakit, 2 buah Puskesmas, 10 Puskesmas Pembantu, 11 Polindes, dan 108 Posyandu. Konstribusi masyarakat Kota Kroya dalam menunjang PAD Kabupaten Cilacap di sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) cukup besar, dimana pada tahun 2008 total baku ketetapan sebesar Rp. 1.157.550.000,- (satu milyard seratus lima puluh tujuh juta lima ratus lima puluh ribu rupiah) dengan 51.161 lembar SPPT,- telah lunas dibayarkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Copyright @ 2013 Berita Kroya. Designed Oleh facebook | MyBloggerLab

Digital clock

Pengikut

About Kroya